Lima fakta menarik Veda Ega Pratama, dari pasar sapi ke Moto3

Lima fakta menarik Veda Ega Pratama, dari pasar sapi ke Moto3

Tahun 2026, Momen Penting untuk Kebangkitan Pembalap Muda Indonesia

Tahun 2026 menjadi momen penting bagi kebangkitan pembalap muda asal Yogyakarta di pentas balap dunia. Sejumlah nama berhasil mencuri perhatian lewat prestasi membanggakan di level internasional. Salah satunya datang dari Aldi Satya Mahendra yang sukses meraih podium pada race kedua World Supersport (WSS) Australia 2026.

Tak berselang lama, giliran Veda Ega Pratama yang menorehkan sejarah dengan finis di posisi ketiga ajang Moto3 Brasil yang digelar di Sirkuit Ayrton Senna pada Minggu (22/3/2026). Hasil ini semakin menegaskan potensi besar pembalap muda Indonesia di kancah global.

Latar Belakang Keluarga yang Berpengaruh

Bakat balap Veda ternyata bukan muncul begitu saja. Ia lahir dari keluarga yang memang kental dengan dunia motorsport. Veda merupakan putra dari Sudarmono, mantan pembalap nasional yang telah lama berkiprah di berbagai kelas, mulai dari bebek, sport 150 cc, sport 250 cc, hingga supersport 600 cc.

Tak hanya itu, Veda juga merupakan keponakan dari Sigit PD, yang pernah meraih gelar juara nasional Indoprix 2013 di kelas IP1 dan IP2. Lingkungan keluarga inilah yang menjadi fondasi awal perjalanan karier balapnya.

Tempat Latihan Unik di Pasar Sapi

Di balik pencapaiannya, Veda memiliki cerita unik soal tempat latihan. Ia kerap mengasah kemampuan di area parkir Pasar Hewan Siyonoharjo, yang berada di Kecamatan Playen, Gunungkidul.

Lokasi yang dikenal sebagai “trek pasar sapi” ini memang populer di kalangan pembalap lokal. Biasanya digunakan untuk latihan, terutama pada Jumat sore. Tempat tersebut juga menjadi basis latihan sekolah balap Mons 54 Privat milik ayahnya, yang turut membentuk kemampuan dasar Veda sejak dini.

Pendidikan Formal di Spanyol

Selain fokus pada balapan, Veda juga tetap menjalani pendidikan formal selama berkarier di Eropa. Hal ini diungkapkan oleh Senior Manager Motorsport Department PT Astra Honda Motor (AHM), Anggono Iriawan.

“Para pembalap muda, termasuk Veda itu sekolah di Spanyol. Mereka ikut sekolah internasional khusus atlet yang memang tersedia di Spanyol. Jadwalnya menyesuaikan, ada online juga. Selain untuk kebutuhan edukasi atlet, sekolah ini memang menjadi syarat mutlak izin tinggal bagi atlet yang berlatih di Spanyol,” ucapnya saat ditemui di Barcelona.

Pelatihan oleh Dua Pembalap Dunia

Perkembangan pesat Veda juga tak lepas dari peran pelatih berpengalaman di level dunia. Ia mendapat bimbingan dari Hiroshi Aoyama, Manajer Honda Team Asia yang telah mendampingi Veda sejak Asia Talent Cup hingga Moto3. Aoyama sendiri merupakan juara dunia GP250 tahun 2009.

Selain itu, Veda juga diasuh oleh Joan Olive Marquez, pelatih sekaligus manajer asal Spanyol di Junior Talent Team. Mantan pembalap GP125 ini pernah merasakan persaingan dengan legenda balap Marco Simoncelli, sehingga pengalaman yang dimilikinya menjadi bekal penting bagi perkembangan Veda.

Selebrasi Tanpa Sampanye

Ada hal menarik dari selebrasi podium Veda di Moto3 Brasil. Pembalap kelahiran 2008 tersebut terlihat tidak menyentuh botol sampanye seperti pembalap lain. Ia hanya memegang botol minuman berenergi yang menjadi sponsornya.

Sikap ini mencerminkan nilai yang ia pegang sebagai seorang Muslim. Momen tersebut mengingatkan pada aksi pembalap World Superbike, Toprak Razgatlioglu, yang juga dikenal tidak merayakan podium dengan sampanye.

Prestasi dan karakter Veda Ega Pratama menjadi kombinasi menarik yang membuatnya layak diperhitungkan sebagai salah satu talenta masa depan balap dunia.

Related posts