Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras terhadap Iran dalam situasi yang semakin memanas. Pada hari Minggu (22/3/2026), Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Peringatan ini disampaikan melalui unggahan di media sosial, dengan nada yang sangat tegas.
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu,” tulis Trump dalam pesannya.
Ancaman ini datang di tengah meningkatnya tekanan terhadap pihak AS untuk menjaga keamanan jalur laut vital tersebut. Harga minyak Brent pada hari Minggu mencapai 112 dolar AS per barel, naik 57 persen sejak awal bulan. Jika serangan terhadap sumber daya listrik Iran benar-benar terjadi, hal ini bisa menjadi eskalasi dramatis dalam konflik yang sedang berlangsung.
Beberapa hari sebelum pernyataan Trump, ia sempat menyampaikan niat untuk meredakan ketegangan. Namun, eskalasi baru ini menunjukkan bahwa situasi telah memasuki fase yang lebih berbahaya. Hal ini terjadi setelah Iran melakukan tindakan yang tidak biasa, yaitu menembakkan rudal jarak jauh untuk pertama kalinya.
Kepala Militer Israel, Eyal Zamir, mengungkapkan bahwa Iran meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Menurut informasi yang diberikan oleh militer Israel, ini adalah pertama kalinya Iran menggunakan rudal jarak jauh sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari.
“Rudal-rudal ini tidak ditujukan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma, yang semuanya berada dalam ancaman langsung,” ujar Zamir dalam pernyataannya.
Seorang sumber dari kementerian pertahanan Inggris menyebutkan bahwa serangan itu terjadi sebelum pemerintah memberikan otorisasi khusus pada Jumat bagi AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi serangan ke situs rudal Iran.
Sejak AS dan Israel memulai serangan mereka terhadap Iran, lebih dari 2.000 orang telah tewas di wilayah Iran. Di Israel, 15 orang tewas akibat serangan Iran sejak perang dimulai. Pada malam Sabtu, rudal Iran menyerang kota Dimona dan Arad di selatan Israel, menargetkan instalasi militer dan pusat keamanan di bagian selatan negara tersebut.
Reaktor nuklir rahasia Israel berada sekitar 13 kilometer di tenggara Dimona. Kedua kota tersebut juga dekat dengan beberapa lokasi militer penting, termasuk Pangkalan Udara Nevatim, salah satu pangkalan udara terbesar di negara tersebut.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik antara AS, Israel, dan Iran semakin rumit dan berpotensi meluas. Ancaman dari Trump dan respons Iran menunjukkan bahwa situasi ini mungkin akan berdampak besar pada stabilitas global, terutama di kawasan Teluk Persia. Masyarakat internasional kini harus memantau perkembangan secara cermat, karena setiap tindakan bisa memicu reaksi yang lebih besar.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







