Trump Mendorong Sekutu untuk Menetapkan IRGC dan Hizbullah sebagai Organisasi Teroris
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah meminta para sekutunya untuk mengklasifikasikan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Hizbullah di Lebanon sebagai organisasi teroris. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran dan kelompok-kelompok yang dianggap mendukungnya. Dalam surat perintah yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri AS, diplomat AS di berbagai negara diminta untuk menyampaikan pesan tersebut kepada pemerintah setempat.
Trump Menganggap IRGC dan Hizbullah Memperburuk Konflik di Timur Tengah
Trump menilai bahwa IRGC dan Hizbullah berkontribusi dalam memperparah konflik di kawasan Timur Tengah. Terlebih lagi, Hizbullah diketahui memberikan dukungan aktif kepada Iran dalam perang melawan AS dan Israel. Dengan demikian, Trump berharap seluruh negara di dunia dapat bersatu untuk menghadapi ancaman dari kedua organisasi tersebut.
“Dengan meningkatnya risiko serangan dari Iran dan para mitranya serta proksinya, semua negara harus bertindak cepat untuk mengurangi kemampuan Iran dan kelompok teroris yang bersekutu dengan Iran dalam menyerang negara dan warga negara kita masing-masing,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri AS.
AS Mengandalkan Sekutu untuk Berperang Melawan Iran
Desakan ini merupakan bagian dari strategi Trump dalam memerangi Iran. Ia sering kali bergantung pada sekutu setianya, seperti Israel, untuk melakukan tindakan militer terhadap negara mayoritas Islam Syiah tersebut. Sebelumnya, Trump juga meminta bantuan negara-negara seperti Inggris dan Rumania agar pangkalan militer mereka bisa digunakan AS untuk menyerang Iran.
Selain itu, ia juga meminta negara-negara seperti China, Prancis, dan Jepang untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keamanan kapal-kapal minyak yang melewati selat tersebut. Pasalnya, Iran telah menutup akses Selat Hormuz, sehingga kapal-kapal minyak tidak dapat berlayar secara aman.
Perang Antara Iran dengan AS-Israel Masih Berlangsung
Perang antara Iran dengan AS dan Israel masih berlangsung hingga saat ini. Baik Iran, AS, maupun Israel masih saling menyerang tanpa adanya penyelesaian damai. Meskipun Iran sudah menawarkan perdamaian, syarat-syarat yang diajukan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, belum sepenuhnya diterima oleh AS dan Israel.
Pezeshkian menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri perang adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi atas kerusakan akibat perang, serta jaminan internasional terhadap agresi di masa depan. Namun, Trump menolak beberapa syarat tersebut karena menilai tidak menguntungkan semua pihak.
“Saat ini, syarat-syarat (yang diberikan oleh Iran) belum bagus,” ujar Trump.
Langkah-langkah yang diambil oleh Trump dan sekutunya menunjukkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Dengan peningkatan ancaman dari Iran dan kelompok teroris, dunia tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik yang bisa berdampak global.
Bahran Hariz adalah seorang penulis di Media Online IKABARI.







