Penyebab Seseorang Mudah Panik dan Cara Mengatasinya
Menghadapi situasi yang sebenarnya tidak terlalu genting, seperti perubahan kecil dalam rencana atau lupa membawa barang, sering kali membuat seseorang mudah panik. Tidak jarang, ketakutan ini muncul tiba-tiba saat dihubungi atasan atau menghadapi tantangan kecil di tempat kerja. Apa penyebabnya? Menurut psikolog Irma Gustiana, reaksi panik bisa jadi bukan sekadar sifat bawaan, melainkan hasil dari pengalaman masa lalu dan pola pikir yang terbentuk sejak dini.
Awal Mula Kecenderungan Mudah Panik
Salah satu faktor yang memicu seseorang menjadi mudah panik adalah tekanan untuk selalu sempurna. Dari kecil, banyak orang dididik untuk tidak boleh salah dan harus selalu berusaha maksimal. Hal ini bisa menciptakan pola pikir yang membuat otak selalu siaga dan waspada.
“Seseorang menjadi panikan itu karena dulunya dia pernah didoktrin untuk harus sempurna, harus bisa sehingga otaknya akan dalam keadaan yang selalu siaga,” ujar Irma dalam acara Media Gathering #TenangBersamaBlueBird, di Jakarta Selatan.
Kondisi ini membuat seseorang hidup dalam kewaspadaan berlebih. Otak seolah tak pernah bisa beristirahat dan terus mencari potensi ancaman, bahkan di situasi yang sebenarnya aman. Irma menyebut, hal ini bisa termasuk sebagai respons trauma masa lalu yang tidak disadari.
Rasa Tak Aman dan Trauma Masa Lalu
Panik sering muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang memicu kembali kenangan atau emosi tak menyenangkan pada masa lalu. Misalnya, seseorang yang dulu sering dimarahi karena melakukan kesalahan kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat takut membuat kesalahan di tempat kerja. Saat menghadapi situasi yang serupa, seperti lupa mengirim laporan atau telat datang rapat, tubuhnya akan langsung bereaksi secara fisik, misalnya jantung berdebar, napas pendek, dan keringat dingin.
“Bisa jadi seseorang punya pengalaman yang tidak enak sehingga ketika dihadapkan dengan kondisi yang sama, perasaan tegang itu muncul,” tambah Irma.
Cara Menghadapi Rasa Panik
Bagaimana cara menghadapi rasa panik agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari? Salah satu saran yang diberikan oleh Irma adalah dengan mulai berdialog dengan diri sendiri. Meskipun terdengar sederhana, berbicara lembut pada diri sendiri adalah cara efektif untuk menenangkan sistem saraf dan mengembalikan kesadaran penuh.
“Cara yang harus dilakukan ketika muncul rasa panik tersebut adalah ngobrol dengan diri sendiri,” katanya. Ia menekankan bahwa menerima bahwa panik adalah reaksi alami tubuh bisa membantu seseorang lebih tenang. Dengan begitu, otak tidak lagi memperlakukan setiap situasi menegangkan sebagai ancaman yang harus dilawan.
Mengenali Tanda-Tanda Kepanikan
Selain berbicara dengan diri sendiri, penting juga untuk mengenali tanda-tanda awal kepanikan. Misalnya, napas mulai cepat, tangan dingin, atau jantung berdebar. Ketika tanda-tanda itu muncul, cobalah menarik napas dalam-dalam dan fokus pada pernapasan. Beri tubuh kesempatan untuk menenangkan diri sebelum pikiran semakin kacau.
Irma menekankan, menjadi tenang bukan berarti menghilangkan semua perasaan takut, tetapi melatih diri agar tetap sadar bahwa panik tidak selalu menandakan bahaya nyata. Dengan demikian, seseorang bisa belajar mengelola emosinya dan menjalani kehidupan dengan lebih tenang.







