Hegseth Kritik NATO: Kami Butuh Mitra, Bukan Negara Bergantung AS

Pernyataan Menteri Pertahanan AS Mengenai Pembagian Beban Pertahanan

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyampaikan pernyataan yang menegaskan bahwa Washington tidak akan lagi “mensubsidi” pertahanan negara-negara sekutu yang dinilai mampu membiayai kebutuhan militer mereka sendiri. Pernyataan ini kembali mengangkat perbedaan pandangan lama antara AS dan sejumlah anggota NATO terkait pembagian beban pertahanan.

Pernyataan Hegseth disampaikan dalam Dialog Shangri-La, forum keamanan internasional yang diadakan di Singapura, Jumat. Menurutnya, pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan aliansi yang dibangun atas dasar tanggung jawab bersama, bukan ketergantungan terhadap Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa era Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya telah berakhir. Kini, ia menilai diperlukan mitra, bukan protektorat, dengan aliansi yang dibangun atas dasar tanggung jawab bersama, bukan ketergantungan.

Hegseth mengaitkan dorongan peningkatan anggaran pertahanan negara-negara sekutu dengan strategi Washington untuk mengalihkan lebih banyak sumber daya ke kawasan Indo-Pasifik dalam menghadapi meningkatnya pengaruh China.

Persoalan Pembagian Beban Pertahanan di NATO

Isu pembagian beban pertahanan telah menjadi isu lama di tubuh NATO. Pada 2014, negara-negara anggota sepakat mengalokasikan sedikitnya dua persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan. Namun, sejumlah negara Eropa selama bertahun-tahun gagal memenuhi target tersebut. Data NATO menunjukkan bahwa seluruh 32 negara anggota baru berhasil mencapai ambang batas dua persen untuk pertama kalinya pada 2025. Meski demikian, Amerika Serikat masih menyumbang sekitar 60 hingga 62 persen dari total pengeluaran militer NATO pada tahun lalu.

Dalam sesi tanya jawab setelah pidatonya, Hegseth bahkan menyebut kontribusi dua persen tersebut sebagai bentuk “menumpang gratis” terhadap kemampuan militer Amerika Serikat.

Tahun lalu, anggota NATO menyepakati target baru berupa pengeluaran lima persen dari PDB untuk sektor pertahanan dan keamanan pada 2035, termasuk target inti pertahanan sebesar 3,5 persen. Namun, target tersebut menuai keberatan dari sejumlah negara Eropa. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut target lima persen sebagai langkah yang “tidak masuk akal” dan “kontraproduktif”. Belgia dan Slovakia juga menyampaikan kekhawatiran terhadap besarnya kenaikan anggaran yang harus dipenuhi.

Perbedaan Pandangan dalam Isu Geopolitik

Perbedaan sikap juga muncul dalam isu geopolitik, terutama terkait Iran. Sejumlah negara Eropa menolak pendekatan militer yang didorong Washington. Spanyol menolak penggunaan pangkalan militer bersama oleh pasukan AS untuk operasi ofensif terhadap Iran, sementara Prancis dan Jerman memilih mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Trump kemudian mengkritik sikap sejumlah sekutu NATO tersebut. Ia menilai negara-negara yang selama ini mendukung tujuan Amerika Serikat justru enggan memberikan dukungan ketika Washington membutuhkan bantuan mereka.

Fokus ke China, Mengapa AS Mulai Menjauh dari Eropa?

Selama puluhan tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, Eropa menjadi pusat perhatian utama kebijakan luar negeri dan keamanan Amerika Serikat. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Washington mulai mengalihkan fokus strategisnya ke kawasan Indo-Pasifik yang dinilai akan menjadi pusat persaingan geopolitik dan ekonomi dunia pada abad ke-21.

Salah satu faktor utama di balik perubahan tersebut adalah meningkatnya pengaruh China di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, teknologi, hingga militer. Bagi Washington, Beijing kini dipandang sebagai pesaing strategis utama yang berpotensi menantang posisi Amerika Serikat dalam tatanan global. Karena itu, semakin banyak sumber daya diplomatik, ekonomi, dan pertahanan AS yang diarahkan ke kawasan Asia.

Isu Taiwan menjadi salah satu titik perhatian terbesar. Amerika Serikat berulang kali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas di Selat Taiwan di tengah meningkatnya ketegangan antara Beijing dan Taipei. Di saat yang sama, Laut China Selatan juga menjadi kawasan yang terus dipantau karena merupakan jalur perdagangan penting yang dilalui sebagian besar arus barang dunia.

Persaingan tidak hanya terjadi di bidang militer. Washington dan Beijing juga terlibat kompetisi sengit dalam penguasaan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, komputasi kuantum, dan teknologi telekomunikasi generasi berikutnya. Siapa yang unggul dalam sektor-sektor tersebut diyakini akan memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian global pada masa depan.

Dalam konteks inilah Amerika Serikat mulai mendorong negara-negara Eropa untuk mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar terhadap keamanan kawasan mereka sendiri. Washington ingin memastikan bahwa sumber daya militernya tidak terlalu terserap di Eropa sehingga dapat lebih difokuskan untuk menghadapi tantangan strategis di Indo-Pasifik.

Mengapa Eropa Makin Sering Berbeda dengan AS?

Hubungan Amerika Serikat dan Eropa selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu aliansi terkuat di dunia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan pandangan di antara kedua pihak semakin sering muncul dalam berbagai isu strategis. Meski tetap menjadi sekutu dekat, Washington dan sejumlah ibu kota Eropa kini tidak selalu memiliki pendekatan yang sama dalam menghadapi tantangan global.

Salah satu perbedaan paling mencolok terlihat dalam penggunaan instrumen diplomasi dan kekuatan militer. Amerika Serikat cenderung lebih terbuka menggunakan tekanan militer untuk mencapai tujuan strategisnya, sementara banyak negara Eropa lebih memilih jalur diplomasi, negosiasi, dan pendekatan multilateral. Perbedaan ini beberapa kali muncul dalam berbagai konflik internasional, termasuk di Timur Tengah.

Dalam isu Iran, misalnya, sejumlah negara Eropa memilih mendorong dialog dan penyelesaian diplomatik untuk meredakan ketegangan. Sebaliknya, Washington kerap mengambil sikap yang lebih tegas dan menekankan pentingnya tekanan politik maupun militer untuk menghadapi ancaman keamanan yang dianggap muncul dari kawasan tersebut. Perbedaan pendekatan inilah yang kerap memunculkan gesekan di antara kedua sekutu.

Faktor energi juga menjadi sumber perbedaan kepentingan. Negara-negara Eropa sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, banyak pemerintah Eropa cenderung berhati-hati terhadap kebijakan yang berpotensi memicu gangguan pasokan energi global atau lonjakan harga minyak dan gas. Sementara itu, Amerika Serikat memiliki fleksibilitas yang lebih besar sebagai salah satu produsen energi utama dunia.

Selain itu, perubahan lanskap geopolitik global turut memengaruhi cara pandang Eropa. Sejumlah negara mulai mendorong konsep “otonomi strategis”, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan keamanan dan ekonomi secara lebih mandiri tanpa selalu mengikuti arah kebijakan Washington. Gagasan ini semakin menguat seiring meningkatnya ketidakpastian global dan perubahan prioritas Amerika Serikat ke kawasan Indo-Pasifik.

Akhir Era Dominasi Amerika di Barat?

Selama lebih dari tujuh dekade setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat menjadi kekuatan dominan di dunia Barat. Melalui NATO, pengaruh ekonomi, kekuatan militer, serta kepemimpinan diplomatiknya, Washington memainkan peran sentral dalam membentuk tatanan internasional modern. Namun, sejumlah perkembangan global dalam beberapa tahun terakhir memunculkan pertanyaan baru: apakah era dominasi Amerika mulai memasuki babak perubahan?

Salah satu faktor utama adalah munculnya dunia yang semakin multipolar. Jika pada masa lalu Amerika Serikat menjadi pusat kekuatan global yang nyaris tak tertandingi, kini sejumlah negara dan kawasan mulai memainkan peran yang lebih besar dalam percaturan internasional. China tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia dengan pengaruh yang terus meluas melalui perdagangan, investasi, teknologi, dan diplomasi.

Di saat yang sama, Eropa juga mulai memperdebatkan pentingnya kemandirian strategis. Sejumlah pemimpin Eropa menilai kawasan tersebut tidak dapat terus bergantung sepenuhnya pada payung keamanan Amerika Serikat. Gagasan mengenai pertahanan Eropa yang lebih mandiri semakin sering mengemuka, terutama setelah berbagai perbedaan pandangan dengan Washington terkait anggaran pertahanan, konflik Timur Tengah, hingga hubungan dengan China.

Kebangkitan China turut mempercepat perubahan tersebut. Persaingan antara Washington dan Beijing tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi, tetapi juga teknologi, energi, kecerdasan buatan, hingga pengaruh geopolitik di berbagai kawasan dunia. Kondisi ini membuat perhatian Amerika Serikat semakin banyak tersedot ke Indo-Pasifik, sementara Eropa didorong untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap keamanan kawasannya sendiri.

Perubahan-perubahan itu menunjukkan bahwa tatanan dunia sedang bergerak menuju keseimbangan kekuatan yang lebih kompleks. Amerika Serikat tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia, namun kini harus berbagi ruang pengaruh dengan aktor-aktor lain yang semakin percaya diri. Dalam konteks tersebut, perdebatan mengenai beban NATO dan hubungan AS-Eropa bukan sekadar soal anggaran pertahanan, melainkan bagian dari transformasi geopolitik yang lebih besar.

Pertanyaannya bukan apakah Amerika Serikat akan kehilangan pengaruhnya, melainkan bagaimana dunia akan beradaptasi terhadap munculnya banyak pusat kekuatan baru. Jika tren ini terus berlanjut, maka abad ke-21 dapat menjadi era ketika dominasi tunggal bergeser menuju kompetisi dan kerja sama di antara berbagai kekuatan global.

Related posts