Aksi Net Sell Pasar Saham Tembus Rp 44 T, Ini Saham Favorit Investor Asing

Aksi Net Sell Pasar Saham Tembus Rp 44 T, Ini Saham Favorit Investor Asing

Kondisi Pasar Saham Indonesia yang Masih Tertekan

Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan yang signifikan. Meski indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat sebesar 0,72% pada Senin (25/5), investor asing tetap mencatatkan net sell yang cukup besar. Pada hari tersebut, IHSG berada di posisi 6.206,34. Namun, jumlah net sell dari investor asing mencapai Rp 2,22 triliun di seluruh pasar.

Jika dilihat secara lebih luas, IHSG masih terkoreksi sebesar 28,22%. Hal ini sejalan dengan tekanan jual yang terus terjadi dari investor asing sepanjang tahun ini. Total nilai net sell mencapai Rp 43,85 triliun. Tekanan ini tidak bisa dihindari, terutama setelah pengumuman dari MSCI dan FTSE yang mengeluarkan beberapa saham dari konstituen indeks mereka.

Outlook Pasar Saham Indonesia

Menurut Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas, outlook pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih dibayangi oleh berbagai sentimen yang menantang, baik dari global maupun domestik. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga BI Rate, rebalancing indeks MSCI dan FTSE, serta wacana implementasi ekspor satu pintu.

“Investor global akan terus memperhatikan arah kebijakan domestik, stabilitas rupiah, serta perkembangan suku bunga global sebelum kembali meningkatkan eksposur secara bertahap ke pasar Indonesia,” ujarnya.

Andrey juga menyebut bahwa tekanan jual dari investor asing mulai terlihat lebih selektif dibanding beberapa waktu lalu. Saat ini, saham-saham large cap yang likuid, defensif, dan memiliki fundamental kuat menjadi pilihan utama investor asing.

Pemilihan Sektor dan Saham yang Menarik

Menurut Andrey, investor asing cenderung memilih saham dari sektor perbankan besar, konsumer, serta beberapa saham komoditas dengan potensi dividend yield yang tinggi. Dengan kondisi pasar yang masih volatil, investor disarankan untuk fokus pada fundamental emiten, valuasi yang atraktif, serta manajemen risiko.

Sementara itu, Abdul Azis dari Equity Research Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa ada potensi perpindahan likuiditas karena sejumlah saham konglomerasi telah keluar dari indeks global seperti MSCI dan FTSE. Kondisi ini berpotensi mendorong aliran dana beralih ke saham-saham blue chip dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta free float sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM.

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan peluang pemulihan IHSG berada di level 7.300 dalam jangka menengah. Namun, saat ini investor asing sedang mencermati keadaan fiskal dan kebijakan dalam negeri.

Rekomendasi untuk Investor Ritel

Azis menyarankan kepada investor ritel dalam negeri untuk tetap selektif dan tidak hanya mengikuti pergerakan investor asing dalam jangka pendek. Strategi hold dan wait and see masih lebih aman diterapkan.

“Hold dan wait and see masih lebih aman sambil mencermati peluang akumulasi bertahap pada saham blue chip dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi,” jelasnya.

Selain itu, sektor komoditas seperti energi, batubara, emas, dan CPO juga masih menarik untuk diperhatikan. Investasi pada saham bank besar dengan likuiditas dan dividend yield yang kuat juga menjadi pilihan yang menarik.

Related posts