BEI dorong saham Indonesia masuk kembali indeks MSCI dan FTSE

BEI dorong saham Indonesia masuk kembali indeks MSCI dan FTSE

Kebijakan BEI untuk Mendorong Saham Indonesia Masuk Indeks Global

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan komitmen kuat untuk memastikan saham-saham di pasar modal Indonesia kembali masuk ke dalam daftar indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell. Dalam wawancara yang dilakukan di Gedung BEI, Jakarta, Senin (25/5/2026), Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan diskusi dengan emiten-emiten potensial sebagai langkah strategis.

“Kami akan mengajak diskusi bagaimana kita bisa bersama-sama menambah jumlah perusahaan tercatat yang dapat masuk ke dalam indeks global. Tentu dengan cara yang baik dan sesuai dengan ketentuan. Kami akan memberikan dukungan untuk itu,” ujar Jeffrey. Ia menegaskan bahwa diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan posisi pasar modal Indonesia di tingkat internasional.

Jeffrey juga menyampaikan bahwa BEI sedang mempersiapkan jadwal untuk melaksanakan diskusi tersebut. Meskipun tanggal pasti belum dapat diumumkan, ia menyatakan bahwa rencana ini sedang dipersiapkan secara internal. “Dalam waktu yang tidak lama. Kami belum bisa menyampaikan waktunya, tetapi itu sedang kami siapkan di internal,” tambahnya.

Kriteria Emitter Potensial

Emiten-emiten yang menjadi fokus BEI adalah perusahaan dengan kapitalisasi pasar (market cap) sesuai kriteria dari penyedia indeks global serta memiliki tingkat likuiditas yang cukup baik. Jeffrey menjelaskan bahwa BEI akan mencari perusahaan-perusahaan yang berada dalam rentang market cap yang seharusnya bisa masuk indeks serta memiliki likuiditas yang memadai.

“Kita lihat yang market cap-nya berada di kisaran yang seharusnya bisa masuk indeks dan tingkat likuiditasnya cukup baik. Itu nanti kita ajak diskusi,” ujarnya. Selain itu, BEI akan mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh para penyedia indeks global terkait kriteria emiten yang berpotensi masuk dalam daftar indeks.

“Tentu kita akan mengikuti ketentuan yang secara terbuka disampaikan oleh global index provider. Kriteria-kriteria perusahaan yang bisa atau eligible untuk masuk,” kata Jeffrey.



Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). – (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Perkembangan Indeks Global

Sebagai informasi, pada Rabu (13/5/2026), MSCI telah mengumumkan hasil rebalancing indeks untuk saham-saham Indonesia dengan mengeluarkan lima saham dari MSCI Global Standard Indexes dan 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes. Kebijakan tersebut akan berlaku efektif pada 29 Mei 2026.

Sementara itu, pada Sabtu (23/5/2026), FTSE Russell mengumumkan penghapusan empat saham Indonesia dari daftar indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) yang akan efektif berlaku pada 22 Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pemantauan dan penyesuaian indeks global terhadap saham Indonesia terus berlangsung.

Performa IHSG dan Pasar Regional

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (25/5/2026) sore ditutup naik mengikuti penguatan bursa kawasan Asia, seiring harapan terjadinya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. IHSG ditutup menguat 44,30 poin atau 0,72 persen ke posisi 6.206,35. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,77 poin atau 1,74 persen ke posisi 631,21.

Menurut Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico, sentimen positif datang dari harapan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran yang memberikan optimisme terhadap stabilitas global.

Dari dalam negeri, IHSG bergerak fluktuatif yang dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Narasi kesepakatan AS dan Iran memberikan katalis positif, sementara tekanan terhadap kurs Rupiah memberikan sentimen negatif.

Pemantauan Neraca Pembayaran Indonesia

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) defisit sebesar 9,15 miliar dolar AS kuartal I-2026, seiring dengan dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI. Defisit tersebut tercatat jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Performa Sektor dan Saham

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dipimpin sektor transportasi & logistik yang naik sebesar 4,20 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor keuangan yang naik masing-masing sebesar 1,23 persen dan 1,14 persen.

Sedangkan empat sektor melemah yaitu sektor energi paling dalam sebesar 1,94 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor kesehatan yang turun masing-masing sebesar 1,23 persen dan 0,70 persen.

Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu GRIA, LAJU, TALF, RONY dan BBHI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DFAM, LCKM, ASPR, DAAZ dan AREA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.065.076 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,66 miliar lembar saham senilai Rp16,95 triliun. Sebanyak 470 saham naik, 236 saham menurun, dan 114 tidak bergerak nilainya.

Perkembangan Bursa Regional Asia

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 1.925,93 poin atau 3,04 persen ke 65.265,00, indeks Shanghai menguat 39,67 atau 0,96 persen ke 4.152,57, indeks Hang Seng menguat 219,51 poin atau 0,86 persen ke posisi 25.606,38, dan indeks Straits Times menguat 2,40 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.070,55.

Related posts