F1 Menggemparkan, Popularitas MotoGP Terancam Tanpa Rossi

F1 Menggemparkan, Popularitas MotoGP Terancam Tanpa Rossi

Masalah Popularitas MotoGP Pasca-Pensiunnya Valentino Rossi

Popularitas MotoGP saat ini tidak dalam kondisi yang baik, terutama setelah kepergian Valentino Rossi, yang pensiun pada tahun 2021. Menurut Davide Tardozzi, manajer tim Ducati Lenovo Team, eksistensi kejuaraan dunia MotoGP mengalami penurunan, khususnya di Italia.

Hadirnya Pecco Bagnaia sebagai perpanjangan tangan Rossi di MotoGP tidak bisa berbuat banyak. Meskipun Pecco Bagnaia telah meraih dua gelar juara dunia MotoGP (2022 dan 2023) bagi Ducati, hal itu tidak cukup untuk memulihkan popularitas kejuaraan tersebut.

“Kami telah kehilangan pangsa pasar di Italia dalam beberapa tahun terakhir,” kata Tardozzi dalam wawancaranya kepada Speedweek.

Dalam pengakuan Tardozzi, tidak ada rider yang bisa menyamai pamor Rossi, untuk melebarkan sayap pangsa pasar MotoGP di dunia. Bahkan melalui tarikan gas Valentino Rossi, MotoGP bukanlah cabang olahraga yang hanya bisa dinikmati oleh pecintanya saja. Namun juga semua kalangan.

“Saya tidak bisa berbicara untuk negara lain. Fakta bahwa kami tidak lagi memiliki Valentino Rossi adalah masalah. Valentino Rossi adalah seorang bintang, pahlawan bahkan bagi para nenek. Dia memastikan mereka menonton MotoGP.”

Di era sekarang ini, banyak yang mengklaim bahwa mereka tidak pernah menonton MotoGP sejak Valentino Rossi pensiun. Kalimat ini sering dianggap usang di platform media sosial, tetapi dalam konteks popularitas dan eksistensi, kalimat tersebut justru relatable. Realitanya di sirkuit, animo penonton untuk menyaksikan balapan MotoGP menurun.

Hal ini yang kemudian membuat Dorna ‘memodifikasi’ kejuaraan dunia, meniru langkah Formula 1 (F1) dengan hadirnya balapan ekstra, atau lebih dikenal sebagai sprint race. Nyatanya itu tak bisa mendongkrak popularitas MotoGP secara masif. Bahkan melalui saluran TV berbayar yang mulai diperkenalkan Dorna, dalam pandangan Davide Tardozzi, belum membantu.

“Di sisi lain, Pecco Bagnaia telah sangat terkenal di Italia selama beberapa tahun terakhir, dan tentu saja Ducati dan Aprilia juga, mereka melakukan pekerjaan yang baik dalam hal promosi,” sambung pentolan di garasi Ducati Lenovo Team.

“Tetapi jelas juga bahwa TV berbayar tidak membantu. Namun, dunia ini harus bertahan, dan penyiar TV berbayar membayar uang yang banyak, jadi penyelenggara cenderung ke arah itu.”

“Saya tidak tahu bagaimana perkembangan selanjutnya dengan pemilik baru, bagaimana mereka berencana untuk memasarkan kejuaraan ini. Saya percaya bahwa era TV berbayar tidak dapat dibalikkan.”

Marc Marquez dan Pengaruhnya Terhadap Popularitas MotoGP

Lantas bagaimana dengan Marc Marquez? Diakui atau tidak, MM93 belum berada di level Rossi untuk mengerek popularitas MotoGP. Marc Marquez, dari sudut pandang bos Ducati, Gigi Dall’Igna, sesuatu yang sensasional di MotoGP, tapi dalam sudut pandang olahragawan.

“Marc Marquez melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh pembalap lain. Saya juga menemukan seorang individu yang luar biasa, seseorang yang memotivasi semua orang dan tak pernah menunjuk-nunjuk kesalahan pada siapa pun,” nilai Dall’Igna, dikutip dari laman Moto It.

Perbandingan dengan Formula 1

Kembali ke Tardozzi, bahwa arah pemasaran kejuaraan dunia MotoGP mengarah ke hal yang salah. Hal itu dia bandingkan dengan kejuaraan dunia F1, yang secara tiket jauh lebih mahal. Wajar jika Tardozzi jiper alias minder.

F1 memiliki kemiripan dengan MotoGP. Secara pengetahuan, bukan hal yang gampang untuk bisa memahami aturan dan regulasi kejuaraan dunia. Tetapi di era saat ini, daya pikat F1 bukan terhadap kejuaraannya, melainkan personal branding dari masing-masing driver.

Dan driver F1 yang kini menjadi magnet tersendiri satu di antaranya ialah, Andrea Kimi Antonelli (Italia), yang bahkan banyak digandrungi oleh kalangan idol hingga artis di Indonesia.

“Saya takjub melihat harga tiket Formula 1, dan tribun penonton sudah penuh sejak Jumat pagi,” kata Tardozzi.

“Hal itu membuat saya bertanya-tanya apakah kita melakukan kesalahan di suatu tempat. Tetapi jelas juga bahwa MotoGP tidak bisa begitu saja pergi ke Las Vegas, Dubai, atau Monte Carlo. Situasinya sangat berbeda di sini, dan kita harus lebih memperhatikan keselamatan. Itu membuat perbedaan besar,” pungkasnya.

Related posts