Valentino Rossi, Intuisi yang Masih Akurat Meski Sudah Pensiun
Lima tahun telah berlalu sejak Valentino Rossi mengambil keputusan untuk pensiun dari MotoGP. Meskipun motor balap purwarupa telah mengalami perubahan besar, intuisi legenda MotoGP ini masih tetap akurat. Pembalap Pertamina Enduro VR46, Fabio Di Giannantonio, menyebutkan bahwa mata Rossi memiliki kemampuan luar biasa.
“Luarnya luar biasa. Mata yang dimilikinya itu gila,” ujarnya saat berada di sela-sela seri MotoGP Catalunya. “Saya sangat terkejut karena dia melihat hal-hal yang hanya bisa Anda lihat dengan data yang keluar di telemetri.”
Diggia menambahkan bahwa reaksi para pembalap terhadap penjelasan Rossi sering kali membuat mereka bertanya-tanya apakah ia benar-benar berada di lintasan bersama mereka.
Valentino Rossi hadir secara langsung dalam balapan yang berlangsung di Sirkuit Catalunya, Barcelona, Spanyol. Meskipun ia berstatus sebagai pemilik tim VR46, Rossi tidak selalu datang karena kesibukannya sebagai pembalap mobil pasca-pensiunnya.
Rossi mengakhiri kariernya di MotoGP pada musim 2021. Sejak saat itu, ia banting setir dengan tampil di perlombaan roda empat. Setelah kepergiannya, motor MotoGP mengalami perubahan signifikan, terutama dalam penerapan aerodinamika yang semakin masif hingga mengubah peta persaingan.
Pabrikan Jepang yang dulu dominan kini mulai tertinggal oleh pabrikan Eropa yang lebih berani dalam inovasinya. Salah satu gebrakan yang banyak dipakai adalah penerapan ground effect. Fairing motor didesain khusus untuk memaksimalkan aliran udara di antara aspal dan tubuh pembalap saat menikung agar menciptakan grip ekstra.
Perlu dicatat bahwa Rossi tidak pernah menunggangi motor Ducati Desmosedici GP yang digunakan timnya sejak terakhir kali ia memperkuat pabrikan Borgo Panigale pada 2012. Bahkan untuk mencoba motor Yamaha YZR-M1 yang telah berevolusi ke konfigurasi V4, di mana ia bertindak sebagai duta merek, The Doctor tidak tertarik untuk melakukannya.
“Banyak orang bertanya, apakah aku ingin mencoba motor MotoGP,” kata Rossi dalam makan malam dengan para legenda tahun lalu yang dibagikan MotoGP. “Namun, kalau tidak balapan, kita tidak dipaksa untuk melakukannya. Aku tidak merindukannya, jujur saja. Aku tak mau mengendarainya.”
Meskipun hasratnya sudah hilang, pengalaman panjang hingga melintasi berbagai era regulasi teknis di MotoGP tampaknya menyisakan ilmu yang sulit disaingi. Diggia mengatakan bahwa rasanya seperti Rossi punya kapasitas besar untuk secara mudah memahami apa yang baru, meski ia tidak mencobanya.
“Kita menjelaskan dan dia memahaminya. Ketika dia menanggapinya, komentarnya tepat seakan-akan dia mencobanya sendiri. Rasanya seperti, wow, bagaimana Anda melakukannya? Itu luar biasa.”
Secara kebetulan, kedatangan Rossi kemarin mendorong performa kedua pembalap VR46 untuk mencatat hasil apik. Franco Morbidelli mampu merebut posisi kedua dalam kualifikasi. Sementara itu, Diggia meraih kemenangan balapan untuk mewujudkan harapan Rossi terhadap timnya musim ini.
Dua hari kemenangannya terjadi, Diggia mengaku terbantu akan kemampuan Rossi. “Sebuah kesempatan besar untuk belajar dan berkembang saat Vale di sini,” ucap pembalap yang justru tumbuh di luar ekosistem VR46 Riders Academy. “Untuk alasan ini, saya sering bertanya kepadanya kapan dia akan datang.”
“Tidak hanya karena kehadirannya, yang berarti besar, karena energi yang dia bawa luar biasa, tetapi karena kita bisa berkembang banyak kalau Vale di garasi.”






