Saat Siswa Australia Belajar Bahasa Indonesia, Ruang Kelas Penuh Gambar Wayang

Murid-murid Bertram Primary School Mengenal Bahasa Indonesia

Di sekolah dasar Bertram Primary School, murid-murid menunjukkan antusiasme dalam belajar Bahasa Indonesia. Mereka memperkenalkan diri menggunakan bahasa tersebut dan berlatih percakapan sehari-hari. Beberapa dari mereka mengaku pernah berkunjung ke Pulau Bali dan mencoba menerapkan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Kunjungan Wartawan Delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program

Pagi itu, langit cerah dengan suhu dingin 12 derajat Celsius. Sekitar pukul 09.00 waktu Perth, yang setara dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program naik minibus Mercedes-Benz. Kunjungan ini difasilitasi oleh Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta.

Delegasi mendatangi Bertram Primary School, sebuah sekolah dasar negeri yang terletak di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Di ruangan kelas, terdapat 13 murid dari kelas 3 hingga kelas 6. Warna kulit mereka beragam, termasuk putih ala ras Eropa, agak legam khas India, serta sawo matang.

Nuansa Indonesia di Ruangan Kelas

Nuansa Indonesia sangat kental di ruangan kelas. Awakan khas Jawa tergeletak di meja, miniatur becak di meja lain, dan alat musik khas Sunda seperti angklung juga ada. Gambar-gambar sosok pewayangan digunting, peta wilayah Indonesia, slogan-slogan Indonesia terpampang di empat sisi dinding. Tulisan-tulisan seperti “Halo, Pak, Bu” dan “Siapa nama kamu?” dicantumkan di bawahnya dalam bahasa Inggris, “What is your name?”.

Terdapat juga ucapan salam seperti “Selamat malam”, “Selamat sore”, poster “Ayo berhitung”, dan “Nama-nama hari”. Buku-buku tentang alam seperti “Air, water”, “api, fire”, “bumi, earth”, “angin, wind” juga tersedia. Selain itu, terdapat kata-kata seperti “Bagus”, “Baik sekali”, “menarik”, “fantastik”, “luar biasa”, “hebat”, dan masih banyak lagi.

Kemitraan dengan Sekolah di Bandung

Gambar orang sedang mengayuh becak, gambar penari, kerajinan batik, topeng khas Bali, dan lembar-lembar kertas yang mewarnai satwa endemik Australia maupun asal Indonesia disertai kesan-pesan dalam Bahasa Inggris, serta nama murid SD Negeri dari Bandung, ditempel di kaca. Sekolah Dasar Negeri Bertram, Australia, ternyata bermitra dengan SD Negeri 023 Pajagalan Kota Bandung, Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Murid-murid lalu memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, mereka praktik percakapan Bahasa Indonesia. Sebagian mereka mengaku pernah liburan ke Pulau Bali dan mempraktikkan Bahasa Indonesia.

Pengalaman Murid-murid

Austin, murid kelas 6, misalnya, mengucapkan “terima kasih” kepada pelayan restoran atau hotel. Ia juga mengajak kenalan anak-anak asli Bali. Ada pun Mia, pelajar kelas 5, bercerita senang belajar budaya dan bahasa Indonesia. Gadis cilik ini cerita, gemar bermain sepak takraw, cabang olahraga perpaduan sepakbola dan voly. Bahan bolanya, berupa anyaman atau gulungan rotan dibuat bulat menyerupai bola.

Tidak Kenal Medsos

Bahasa Indonesia di Bertram Primary School diajar beberapa guru Bahasa Indonesia. Misalnya, Vincent Sweetman, warga negara Australia. Ia fasih bahasa Indonesia. Ia pernah menjadi guru sekolah internasional di Jakarta. Ia telah menikahi Vinny, wanita asal Bandung.

Selain Sweetman, ada juga Vita, perempuan asal Surabaya, Jawa Timur, yang dalam empat tahun terakhir mengajarkan budaya dan Bahasa Indonesia. Dia mengenalkan batik, wayang, serta budaya Nusantara kepada pelajar.

Sweetman mengatakan, “Murid-murid SD Bertram memang dilarang bermedia sosial. Sebab konstitusi tidak membolehkan anak usia di bawah 16 tahun mengakses platform media sosial.”

Fenomena BookTok di Australia

Dr Nasya Bahfen, dosen Departemen of Politics Media and Philosophy, La Trobe University, Melbourne, Victoria, Australia, mengatakan telah terjadi fenomena pada remaja dan mahasiswa meninggalkan ketagihan menggunakan telepon seluler smartphone, serta media sosial. Bila sebelumnya, kerap menjumpai orang-orang sibuk memelototi layar ponsel, atau jari-jemari memainkan layar sambil sambil berjalan di kaki-lima maupun kampus, saat ini, gejala tersebut mulai hilang.

Mahasiswa di kampus, atau di tempat tongkrongan, lebih gemar tanpa membawa smartphone. Mereka pun mengganti kesibuk bermain ponsel, dengan membaca buku Pelajaran maupun novel yang kemudian membentuk prinsip-prinsip baru.

Mencari Pacar Kutu Buku

“Mahasiswa saya, sekarang lebih senang membaca buku, daripada memegang ponsel. Bahkan, ada semacam prinsip bagi anak muda, mencari pacar yang kutu buku, daripada yang ketagihan ponsel,” kata Bahfen, perempuan kelahiran Singapura, dan masa kecil pernah tinggal di Jakarta. Dia sudah berpuluh tahun tinggal di Australia.

Gejala BookTok saat Covid

Menurut Bahfen, perempuan berhijab ini, dalam lima tahun ke belakang, ada gerakan, remaja sekarang meninggalkan smartphone, beralih kepada dumbphone atau telepon zaman dulu. Ponsel jadul, yang tidak terhubung ke internet dan dalam jaringan (online). Ponsel yang dapat digunakan menelepon dan atau mengirim pesan singkat (SMS), juga tidak terdapat layanan whatsap. Tidak dapat videocall.

Kini, fenomena sosiologis dan psikologis, ada kesadaran dan kekhawatiran akan dampak kecanduan ponsel mengakibatkan kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan hilangnya batas antara kehidupan personal dan profesional.

Muncullah kontra-tren gerakan minimalis digital di kalangan generasi muda, Genenerai Z dan Milenial, sebagai respons terhadap kejenuhan akut akibat disrupsi smartphone. Dulu, dunia memuji smartphone karena multitasking dan mampu menyatukan (konvergensi) belasan fungsi alat tunggal seperti jam, alarm, kamera, pemutar musik. Kini, arus balik, anak muda memisahkan fungsi-fungsi tersebut (divergensi) lewat teknologi satu fungsi. Bahfen mengakui, memiliki riset tentang perilaku remaja yang semakin gemar membaca buku. “Mereka disebut masuk dalam era Booktok, sejak pandemic Covid-19, lima tahun lalu,” ujar Bahfen.

Toko Buku Kembali Laris

Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca. Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney.

Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian. Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.

Buku It Ends with Us Karangan Colleen Hoover

Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover bahkan sempat merajai daftar bestseller fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal. Pada puncaknya, penerbit besar Australia mulai mengontrak influencer BookTok lokal sebagai pembicara di festival-festival literasi besar, seperti Melbourne Writers Festival, untuk menarik audiens Gen Z.

Dampak BookTok terhadap Industri Retail Buku

Dampak BookTok terhadap industri retail buku di Australia sangat masif dan membalikkan prediksi banyak analis yang awalnya mengira generasi muda akan meninggalkan buku fisik demi gawai. Sebelum fenomena BookTok, jika ingin novel romantis, pembeli harus tahu ke mana mencarinya. Beberapa toko kecil menyediakan novel romantis dalam bentuk paperback, begitu pula toko serba ada, seperti Big W. Beberapa jaringan toko buku juga menyediakannya, tetapi novel romantis biasanya tidak menjadi pusat perhatian.

Tahun 2025, keadaan telah berubah. Dikutip theconversation.com dari Nielsen Bookscan, novel romantis tidak lagi terpinggirkan. Manfaat BookTok dan Bookstagram, penjualan novel romantis tumbuh rata-rata 49 persen selama tiga tahun. Pembaca novel romantis Australia, menopang pasar buku nasional yang stagnan. Toko buku besar kini memiliki rak khusus untuk novel romantis. Acara penandatanganan buku romantis besar-besaran diadakan di pusat konvensi. Pembaca novel romantis mengantre untuk pembukaan toko buku khusus novel romantis Romancing the Novel di Paddington, Sydney tahun lalu.

Related posts