Kebiasaan Bangun di Malam Hari yang Wajar dan Normal
Pernahkah kamu terbangun di tengam malam dan langsung khawatir ada yang salah dengan tubuhmu? Tenang saja, ternyata bangun di malam hari itu adalah hal yang sangat wajar, lho. Banyak orang mengira tidur malam harus nyenyak tanpa terbangun sama sekali, padahal faktanya berbeda.
Menurut dokter spesialis tidur Ruchir Patel, bangun beberapa kali di malam hari masih dianggap wajar selama kamu bisa tidur lagi dalam waktu kurang dari 30 menit. Nah, supaya kamu gak terus bertanya-tanya apakah pola tidurmu masih normal atau justru perlu diperiksa, yuk pahami penjelasannya berikut ini. Siapa tahu, kebiasaan yang selama ini kamu anggap sepele ternyata jadi penyebab tidurmu sering terganggu.
Frekuensi Bangun Malam yang Masih Dianggap Normal
Menurut dokter spesialis tidur Dr. Ruchir Patel, orang dewasa muda biasanya terbangun satu sampai dua kali dalam semalam dan itu masih tergolong normal. Saat memasuki usia dewasa pertengahan, frekuensinya bisa meningkat menjadi dua hingga tiga kali. Sementara pada usia yang lebih tua, bangun tiga sampai lima kali semalam juga masih cukup umum terjadi.
Namun, bukan cuma frekuensi bangunnya yang penting diperhatikan. Dr. Patel menjelaskan bahwa tubuh seharusnya masih bisa kembali tidur dalam waktu kurang dari 30 menit. Kalau kamu sering terjaga lama sampai susah tidur lagi, kondisi itu bisa menjadi tanda adanya gangguan tidur atau masalah kesehatan tertentu.
Stres dan Kebiasaan Sehari-hari Bisa Bikin Tidur Terputus
Menurut penelitian dalam Journal of Sleep Medicine, stres, kecemasan, dan depresi menjadi salah satu penyebab terbesar insomnia dan tidur yang sering terputus. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang dengan insomnia cenderung memiliki kadar hormon stres kortisol yang lebih tinggi. Itulah kenapa saat pikiran sedang penuh, tubuh jadi lebih gampang terbangun di malam hari.
Dokter spesialis tidur Dr. Morgan Soffler menjelaskan bahwa insomnia jangka pendek sebenarnya cukup umum dan bisa muncul karena perubahan hidup, tekanan pekerjaan, sakit, atau masalah pribadi. Meski begitu, kalau gangguan tidur berlangsung lebih dari delapan minggu, kamu sebaiknya mulai mencari bantuan medis. Selain stres, kebiasaan seperti doomscrolling sebelum tidur dan jadwal tidur yang berantakan juga bisa membuat kualitas tidur semakin buruk.
Gangguan Kesehatan Tertentu Juga Bisa Jadi Penyebab
Kalau kamu sering bangun sambil terengah-engah, mendengkur keras, atau bolak-balik ke kamar mandi saat malam, bisa jadi itu tanda sleep apnea. Menurut Dr. Morgan Soffler, kondisi ini terjadi ketika saluran napas menyempit saat tidur sehingga otak terpaksa membangunkan tubuh untuk mengembalikan pernapasan normal. Akibatnya, tidur jadi terputus-putus tanpa disadari.
Selain itu, restless leg syndrome atau sindrom kaki gelisah juga dapat membuat seseorang sulit tidur nyenyak. Menurut National Sleep Foundation, gangguan ini membuat kaki terasa gak nyaman dan muncul dorongan kuat untuk terus digerakkan, terutama saat malam. Neurolog Dr. William G. Ondo menjelaskan bahwa gejala biasanya memburuk ketika tubuh sedang beristirahat, sehingga penderita lebih mudah terbangun berulang kali.
Kondisi Kamar dan Tubuh Ikut Memengaruhi Kualitas Tidur
Ternyata suhu kamar juga punya pengaruh besar terhadap tidurmu, lho. Menurut National Sleep Foundation, suhu kamar ideal untuk tidur berada di kisaran 18 hingga 20 derajat Celsius. Ruangan yang terlalu panas bisa mengganggu siklus tidur alami tubuh dan membuat kamu lebih sering terbangun saat malam.
Bukan cuma suhu kamar, kondisi kasur juga bisa jadi penyebabnya. Pete Bils, wakil presiden sleep innovation and clinical research dari Sleep Number, menjelaskan bahwa kasur yang terlalu keras dapat memberi tekanan berlebih pada pinggul dan bahu. Akibatnya, tubuh jadi sering bergerak atau bolak-balik mencari posisi nyaman sepanjang malam.
Perubahan Hormon, Alkohol, dan Obat Tertentu Dapat Mengacaukan Tidur
Menurut psikolog sekaligus pakar tidur Dr. Leah Kaylor, perubahan hormon dapat memengaruhi kualitas tidur secara signifikan. Fluktuasi hormon saat menstruasi, kehamilan, menopause, atau proses penuaan bisa memicu insomnia, keringat malam, hingga rasa gelisah. Itu sebabnya sebagian orang merasa tidurnya lebih mudah terganggu pada periode tertentu.
Selain hormon, konsumsi alkohol sebelum tidur juga bisa membuat tidur jadi lebih ringan dan gampang terbangun. Menurut penelitian dalam Sleep Medicine Reviews, alkohol dapat mengganggu fase REM yang penting untuk memori dan pemulihan otak. Dr. Kaylor juga menyebut beberapa obat seperti obat tekanan darah, asma, antidepresan, hingga obat flu tertentu dapat memicu insomnia sebagai efek samping.
Bangun di tengah malam sebenarnya bukan hal aneh, terutama jika kamu masih bisa tidur lagi dengan cepat dan tetap merasa segar keesokan harinya. Namun, kalau frekuensinya makin sering, membuat tubuh lelah sepanjang hari, atau disertai gejala lain seperti mendengkur dan sulit bernapas, sebaiknya jangan diabaikan. Banyak faktor yang bisa memengaruhi kualitas tidur, mulai dari stres sampai kondisi kesehatan tertentu. Dengan mengenali penyebabnya lebih awal, kamu bisa menemukan solusi yang tepat agar tidur kembali nyenyak dan tubuh terasa lebih fit setiap hari.


