Penurunan Arus Peti Kemas di TPS pada Kuartal I/2026
PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) mencatatkan penurunan arus aktivitas peti kemas yang dikelola perseroan pada kuartal pertama tahun 2026 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sekretaris Perusahaan TPS, Erika Asih Palupi, menjelaskan bahwa selama Januari hingga April 2026, total arus peti kemas ekspor maupun impor terkoreksi sebesar 5,5% menjadi 472.000 Twenty-foot Equivalent Units (TEUs), dari 498 ribu TEUs pada periode yang sama tahun lalu.
Erika menyebutkan bahwa penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah ketidakseimbangan antara volume kargo dan jumlah kapal yang singgah di pelabuhan. “Koreksi tahunan ini disebabkan oleh faktor unbalancing atau ketidakseimbangan antara volume kargo dan ship’s call kapal. Hal ini terjadi karena jadwal layanan pelayaran tetap dipertahankan, tetapi volume kargo di pasar belum tumbuh secepat kapasitas angkut kapal yang tersedia,” ujarnya.
Meski demikian, kunjungan kapal internasional ke TPS tercatat meningkat sebesar 0,59%, dari 335 kunjungan pada kuartal pertama tahun lalu menjadi 337 kunjungan pada empat bulan pertama tahun ini. Secara bulanan, volume peti kemas di TPS juga mengalami peningkatan. Dari 114 ribu TEUs pada Maret 2026 menjadi 119 ribu TEUs pada April 2026, dengan mayoritas berasal dari aktivitas peti kemas antarnegara.
“Performa positif ini didorong oleh dominasi peti kemas internasional yang menyumbang 116 ribu TEUs, sementara lini domestik berkontribusi sebesar 3 ribu TEUs,” tambah Erika.
Performa Ekspor-Impor yang Menunjukkan Geliat Positif
Pada sektor perdagangan internasional, performa ekspor-impor TPS pada April 2026 menunjukkan geliat yang sehat. Erika menyebutkan bahwa arus ekspor naik 3,64% menjadi 57 ribu TEUs, sedangkan volume impor meningkat hingga 9,25% dibanding Maret 2026 menjadi 59 ribu TEUs.
Ia menegaskan bahwa pertumbuhan volume peti kemas secara bulanan mencerminkan ketangguhan operasional TPS dalam merespons kepercayaan pelanggan dan pemangku kepentingan, meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti kondisi ekonomi global dan dinamika penyesuaian operasional yang tengah berjalan.
“Pertumbuhan arus peti kemas pada April 2026 secara month-on-month menunjukkan bahwa kinerja operasional TPS tetap resilience. Kenaikan aktivitas ekspor dan impor ini mencerminkan adanya perbaikan pada aktivitas perdagangan serta komunikasi dengan semua pihak yang terjalin harmonis,” tegasnya.
Efisiensi Operasional yang Tetap Terjaga
Selama Januari-Februari 2026, rata-rata kinerja bongkar muat TPS tercatat mencapai 50 box/ship/hour. Angka ini melampaui standar minimum yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan melalui KSOP Utama Tanjung Perak, yakni sebesar 48 box/ship/hour.
Dengan kinerja tersebut, TPS tetap dapat mempertahankan dominasi dengan menguasai 83% pangsa pasar (market share) peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Transformasi Operasional yang Berkelanjutan
Saat ini, TPS sedang melaksanakan proses transformasi operasional secara bertahap seiring dengan kedatangan dan pengoperasian peralatan baru, antara lain 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG) dan 4 unit Electric Container Crane (E-CC). Transformasi ini diiringi dengan berbagai penyesuaian operasional guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi layanan.
“Langkah step up ini merupakan komitmen TPS untuk terus memberikan layanan yang prima dan handal kepada seluruh pengguna jasa di tengah dinamika industri logistik. Kami juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan dari seluruh pelanggan dan pemangku kepentingan yang tetap setia menjaga dan mendukung kelancaran implementasi program transformasi ini,” pungkasnya.





