Klaten, Wilayah dengan Banyak Candi yang Menggambarkan Peradaban Masa Lalu
Klaten, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dikenal sebagai kota seribu umbul. Namun, selain itu, wilayah ini memiliki sejarah yang kaya akan candi-candi yang menjadi saksi bisu peradaban Nusantara. Klaten tidak hanya menjadi jalur penghubung antara Solo dan Yogyakarta, tetapi juga menyimpan banyak kompleks candi bercorak Hindu-Buddha yang dibangun sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.
Candi-candi ini berfungsi sebagai tempat ibadah, ritual keagamaan, penghormatan terhadap raja, serta pusat spiritual. Mereka mencerminkan tingginya nilai religius dan budaya pada masa lalu. Beberapa candi terkenal di Klaten antara lain Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Plaosan, hingga Candi Lumbung, Sojiwan, Bubrah, Merak, dan Gana.
Alasan Banyaknya Candi di Klaten
Menurut AJI Artbanu Wishnu dalam buku Candi-Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta, candi merupakan representasi dari Gunung Mahameru, tempat bersemayam para dewa. Pada masa kerajaan, fungsi candi sangat penting, seperti:
- Tempat peribadatan dan ritual keagamaan
- Lokasi pemujaan dewa-dewa Hindu-Buddha
- Tempat penghormatan untuk raja atau tokoh penting
- Pusat kegiatan spiritual dan meditasi
Pembangunan candi pada masa lalu tidak dilakukan sembarangan. Masyarakat Jawa Kuno mengikuti Kitab Manasara Silpasastra dari India sebagai pedoman arsitektur suci. Salah satu syarat utama pendirian candi adalah lokasi yang subur. Klaten memiliki kondisi geografis yang sangat sesuai:
- Dekat dengan Gunung Merapi
- Dialiri berbagai sungai
- Struktur tanah vulkanik yang subur
- Permukaan tanah stabil untuk bangunan batu berukuran besar
Tidak heran, banyak candi terletak di wilayah Prambanan-Klaten, kawasan strategis yang sejak dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat agraris dan religius.
Klaten Sebagai Bagian dari Pusat Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno, yang berdiri pada tahun 732 M di bawah Raja Sanjaya, berpusat di kawasan yang kini meliputi Klaten dan daerah sekitarnya. Sebagai kerajaan Hindu-Buddha, pembangunan candi menjadi elemen penting untuk:
- Tempat persembahan kepada dewa
- Upacara kerajaan
- Aktivitas keagamaan biksu dan pendeta
- Simbol kejayaan dan legitimasi kekuasaan
Karena itu, candi-candi di Klaten sering ditemukan saling berdekatan sebagai satu mandala atau kompleks religius. Contohnya tiga candi yang lokasinya saling terhubung:
- Candi Prambanan – Candi Sewu – Candi Plaosan
Kompleks ini menunjukkan bahwa Klaten merupakan pusat peribadatan besar pada masa Mataram.
Deretan Candi Ternama di Klaten
-
Candi Plaosan
Terletak di Desa Bugisan, Prambanan, Klaten. Candi bercorak Buddha ini diperkirakan dibangun pada masa Rakai Pikatan (abad ke-9). Pahatannya mirip Borobudur, Sewu, dan Sari. Candi ini juga terkenal sebagai simbol kisah cinta beda agama antara Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani. -
Candi Sewu
Berada di Dukuh Bener, Bugisan, Klaten. Dibangun pada abad ke-8 oleh Rakai Panangkaran, candi ini menjadi pusat kegiatan agama Buddha. Prasasti Manjusrigrta menunjukkan fungsi Candi Sewu sebagai pusat penyempurnaan ajaran Buddha. -
Candi Lumbung
Bercorak Buddha dan dibangun abad ke-9–10. Memiliki bentuk stupa pada atapnya, menandakan fungsi Buddhis yang mirip dengan candi-candi mandala lainnya. -
Candi Sojiwan
Terletak di Kalongan, Kebon Dalem Kidul. Diperkirakan menjadi bagian sebaran dari kompleks Prambanan. Coraknya Buddha dan memiliki relief yang indah. -
Candi Bubrah
Berada di kawasan Prambanan. Saat ditemukan, candi sudah rusak berat dan tinggal reruntuhan setinggi dua meter, karena itu dinamakan Bubrah. Candi ini satu kelompok dengan Candi Sewu dan Lumbung. -
Candi Merak
Terletak di Karanggongko, Karangnongko, Klaten. Bercorak Hindu dan dibangun pada abad VIII–IX. Nama “Merak” diperkirakan berasal dari banyaknya burung merak di sekitar lokasi saat ditemukan. Candi ini telah beberapa kali dipugar. -
Candi Gana
Berada di Dusun Bener, Bugisan. Merupakan candi bercorak Buddha dan termasuk dalam nominasi bangunan warisan dunia sebagai “Candi Asu”. Diduga dibangun pada abad IX berdasarkan komponen arsitekturnya.







