Program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Daerah Istimewa Yogyakarta
Program pendidikan baru yang diberi nama Pendidikan Khas Kejogjaaan (PKJ) resmi diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. PKJ adalah sebuah program pendidikan berbasis budaya yang kini diterapkan secara resmi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan utama dari program ini adalah untuk membentuk karakter siswa melalui penanaman nilai-nilai budaya.
Pendekatan PKJ mengajarkan siswa tentang pembentukan karakter dengan memasukkan nilai-nilai budaya Yogyakarta ke dalam proses belajar. Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menjelaskan bahwa program ini akan diterapkan dalam berbagai kegiatan belajar. Siswa akan dibiasakan dengan nilai-nilai budaya sehingga memiliki karakter yang telah dipelajari.
Konsep Pendidikan Khas Kejogjaan
Dalam konsep PKJ, siswa akan mempelajari pendidikan karakter dengan memasukkan nilai-nilai budaya Yogyakarta ke dalam proses belajar. Menurut Sutrisna, “Pertama, mengenai gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan itu lebih ke pembiasaan atau habituasi. Jadi, tidak sekadar program, tetapi benar-benar terlaksana dan dibiasakan, sehingga akan menjadi milik karakter itu.”
PKJ juga mengusung konsep sesuai pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ada tiga tahapan dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara yakni memahami, merasakan, dan melakukan. “Prosesnya itu, kalau menurut Ki Hadjar Dewantara ‘kan ada tiga: ngerti (memahami), ngerasa (merasakan), dan ngelakoni (melakukan). Nah, pembudayaan itu mencakup tiga unsur ini,” jelas Sutrisna.
Menggabungkan Budaya dan Pendidikan Modern
Selain itu, PKJ juga menggabungkan budaya dan pendidikan modern. Ada banyak sumber nilai yang diambil dalam PKJ, mulai dari Keraton Yogyakarta, Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga pendidikan modern. Di Pendidikan Khas Kejogjaan itu namanya Widya Soko Tunggal. Pengetahuan dari sumber-sumber utama itu kita gali nilai atau value-nya.
Keenam sumber tersebut adalah: (1) Keraton, (2) Pakualaman, (3) Nahdlatul Ulama (NU), (4) Muhammadiyah, (5) Taman Siswa, dan (6) Pendidikan Modern. Sumber-sumber ini kita gali untuk menguatkan akar Jogja yang kita sebut sebagai Widya Soko Tunggal.
Nilai-Nilai yang Diterjemahkan ke Pedoman Hidup
Nilai-nilai yang digali dari berbagai sumber tidak berhenti sebagai konsep semata. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan menjadi pedoman hidup yang bisa diterapkan sehari-hari. “Filosofi itu ‘kan pandangan hidup. Ini kita jadikan pedoman bagi Kawula Jogja, khususnya anak-anak kita, bahwa kita harus bersikap Hamemayu Hayuning Bawana, memelihara kedamaian dunia, tidak menumbuhkan pertengkaran, dan saling bertoleransi,” terang Sutrisna.
Hasil Implementasi PKJ
Implementasi Pendidikan Karakter Jogja (PKJ) mulai menunjukkan hasil yang positif di lapangan. Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi, menyebutkan nilai karakter siswa telah mencapai 4,1 dari skala 5. Capaian ini menjadi dasar untuk memperluas program ke seluruh jenjang pendidikan, dari PAUD hingga SMA/SMK.
Pemerintah daerah menilai penguatan karakter penting untuk menyeimbangkan perkembangan akademik dan moral siswa. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pentingnya pendidikan karakter yang menyeluruh. “Tantangannya bukan hanya bagaimana melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang utuh. Sebab kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa disertai kedewasaan nilai, dapat membuat manusia kehilangan arah, bahkan tercerabut dari akar budayanya sendiri,” tegasnya.
Dengan demikian, pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan budaya.







